Jumat, 12 April 2013

KARL MARX


RESUME SOSIOLOGI


Tentang

KARL MARX BAGIAN 2 



Dosen Pembina          : Prof. Dr Damsar, M.A
  Dra. Hj. Fitri Eriyanti, M.Pd, Ph.d




Oleh
KELOMPOK 12



USTRI  ANALIDA

SIBET


PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
KOSENTRASI PENDIDIKAN GEOGRAFI
PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012



Cara Berrfikir, Bertindak dan Berperilaku Manusia Bisa Berubah

Sifat  dasar  manusia bukan merupakan sesuatu yang statis, akan tetapi berbeda-beda sesuai dengan latar belakang historis dan sosial. Untuk memahami sifat dasar manusia, kita harus memahami sejarah sosial, karena dia dibentuk oleh kontradiksi-kontrsdiksi dialektis yang sama yang diyakini bentuk sejarah masyarakat ( George Ritzer: 51 )
Sebagian besar asumsi dasar Marx adalah keberadaan menentukan kesadaran yaitu kondisi-kondisi kehidupan material menentukan tipe kesadaran normatif atau kesadaran sosiologi seseorang. Dalam hal ini, materi menentukan ideologi, dengan perubahan sifat-sifat materi  (kontradiksi ekonomi dan materi), dan berakibat pada perubahan sosial berubah dalam hal norma-norma atau kesadaran sosial (kinloch, hal 107).
Dalam Johnson 129 , menurut Marx, manusia tidak hanya sekedar organisme materil, sebaliknya manusia memiliki kesadaran sendiri. Artinya mereka memiliki sesuatu kesadarn subyektif tentang dirinya sendiri dan situasi-situasi materilnya.

Ide-ide tentang sifat dasar manusia seperti ketamakan, kecenderungan pada kekerasan, perbedaan gender sering digunakan untuk menentang perubahan sosial apapun. Konsepsi-konsepsi sifat dasar manusia itu konservatif. Jika problem-problem kita diebabkan oleh sifat dasar kita , maka lebih baik belajar untuk mebiasakan diri untuk mencoba mengubah segala sesuatu. Beberapa konsepsi tentang sifat dasar menusia mendikte bagaimana masyarakat bisa disokong dan diubah, akan tetapi yang paling penting bagi teori Marx adalah anjuran bagaimana masyrakat harus diubah.

Perubahan sejarah mencakup perkembangan teknologi baru, penemuan sumber-sumber baru, atau perkembangan baru lain apapun dalam bidang kegiatan produktif. Perubahan-perubahan seperti ini dapat muncul dari usaha-usaha meningkatkan strategi-strategi yang ada dalam menghadapi lingkungan materil, untuk memenuhi kebutuhan yang adasecara efisien, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan baru yang akan muncul. Karena hal tersebut cara berfikir, bertindak dan berperilaku manusia berubah sehingga  pada masa kapitalisme tersebut masyarakat bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya dan bersifat matrealisme atau segala sesuatu diukur dengan materi. 
Pada masa kapitalisme kelas buruh bekerja dengan upah yang tidak sebanding, sehingga untuk mendapatkan materi yang berlebih harus bekerja melebihi waktu yang seharusnya. Masyarakat berfikir bahwa segala sesuatu yang berubah dipengaruhi oleh materi sehingga massyarakat bersifat komsumtif dan menganggap materi itu tolak ukur sehingga berusaha mencari  materi sebanyak-banyaknya.

Pengelompokan Manusia dan Hubungan Antar Kelas

            Karl Marx sangat sering sekali menggunakan istilah kelas didalam karya-karya yang telah dia lahirkan, namun Marx sering juga tidak mendefinisikan apa yang dimaksud dengan istilah kelas ini.Sebenenarnya kelas bagi Marx selalu didefinisikan sesuai dengan potensinya itu sendiri terhadap  konflik. Kemudian para individu-individu ini membentuk sebuah kelas selama para individu ini berada didalam suatu konflik biasa dengan individu-individu yang lainnya terhadap nilai surplus ( George Ritzer: 65 )

            Kelas telah didefinisikan sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya konflik ,maka konsep ini memiliki perbedaaan-perbedaan baik ditelaah secara teoritis maupun secara historis.Marx juga berpendapat bahwa sebuah kelas akan memliki eksistensi hanya ketika seseorang sedang menyadari kalau dia sedang berkonflik dengan kelas-kelas yang lainnya,dan disaat mereka menyadari akan terjadinya konflik,maka mereka akan menjadi suatu kelas yang sebenarnya,yaitu suatu kelas untuk dirinya.
            
            Marx pun menemukan ada dua macam kelas ketika marx sedang menganalisis kapitalisme yaitu sebgai berikut :
1.      Kelas Borjuis, merupakan nama yang dibuat khusus untuk para kapitalis dalam ekonomi modern. Mereka telah memiliki alat-alat produksi dan juga mempekerjakan pekerja upahan.
2.      Kelas Proletar, untuk kelas proletar sendiri sebenarnya berbanding terbalik dengan pengertian kelas Borjuis.Dimana, sebuah individu-individu yang sangat dibutuhkan didalam masyarakat seperti buruh yang cekatan,kemudin bisnis-bisnis kecil yang telah dibangun akan tergerus oleh sebuah mekanisme yang lambat laun semakin mudah. Mekanisme inilah yang menjadi faktor perubahan karena kapitalis telah mengganti para pekerja dengan mesin-mesin yang telah dijalankan.Dan semua orang yang digantikan inilah akan terpaksa turun dari jabatannya  menjadi proletariat.
       
            Tidak satu pun dari kontradiksi-kontradiksi ini yang bisa diselesaikan kecuali dengan mengubah strukur kapitalis. Marx juga mengakui bahwa konflik kelas sering disebabkan oleh bentuk-bentuk lain dari stratifikasi,seperti etnis, ras, gender, dan juga agama.Bagaimana pun dia tidak menerima hal ini sebagai bagian yang utama.
Marx membedakan manusia atas kelas-kelas (stratifikasi sosial) yaitu atas dasar posisi masing-masing kelas terhadap sarana-sarana produksi yang dimilikinya dan dilihat dari usaha yang berbeda dalam mendapatkan sumber – sumber daya yang langka.
Jika suatu kelompok manusia mampu menguasai sumber – sumber produksi dan alat produksi yang cukup banyak maka kelompok ini dapat disebut kelas pemilik modal. Sedangkan jika ia memiliki tanah yang cukup luas dan mempekerjakan banyak orang untuk menggarap dan mengolah tanah tersebut maka orang ini disebut sebagai kelas pemilik tanah dan jika sekumpulan orang yang hidup hanya dengan mengandalkan tenaga kerjanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bekerja sepanjang hari pada kelas pemilik modal dan pemilik tanah maka inilah kelas yang paling rendah disebut dengan kelas pekerja (buruh).
Sistem Stratifikasi tergantung pada hubungan kelompok-kelompok manusia terhadap sarana-sarana produksi. Diantaranya ada yang disebut dengan Kelas modern, Yaitu mereka yang disebut pemilik tenaga kerja pemilik modal dan tuan-tuan tanah yang sumber keuangannya tergantung pada penerimaan upah, laba dan sewa tanah, dan berikutnya ada kelas rendah yang terdiri dari para pekerja atau kaum buruh dalam perusahaan milik kelas modern (Johnson, 147)
Pembgian kerja dengan tugas tertentu dalam proses produksi mengakibatkan pembagian produk yang tidak sama maka timbulah yang namanya hak milik. Hak milik disini bukanlah hak milik pribadi berupa barang-barang konsumsi, melainkan milik pribadi berupa sarana-sarana produksi seperti alat, uang (modal). Dengan modal inilah orang dapat menyuruh orang lain bekerja untuk dirinya dan pemilik modal dapat menguasai tenaga kerja orang-orang lain.
Hubungan antar kelas terjadi sangat tidak seimbang dan timpang. Hal ini disebabkan karena yang hanya diuntungkan atas terjadinya hubungan antara kedua kelas ini yaitu kaum pemilik modal dan pemilik tanah (lahan) sedangkan kelas pekerja hanya dibutuhkan untuk menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi kelas pemilik modal tersebut. Pekerja hanya dipakai sebagai objek yang untuk diperas tenaganya dan di manfaatkan keberadaanya untuk memenuhi keinginan dari pemilik modal. Sedangkan untuk kebutuhan hidup dan upah yang diberikan sangat rendah sementara kelas ini bekerja seharian tanpa diberi jaminan kesejahteraan, jaminan kesehatan, jaminan hari tua dan jasa atas produksinya. Hal ini dapat dijadikan oleh pemilik modal sebagai ajang untuk memperdaya dan akhirnya membuat kelas buruh menjadi tertindas dan teralienasi.
Hubungan antar kelas tidaklah untuk saling melengkapi satu sama lain dan tidak dalam bentuk hubungan yang harmonis melainkan hubungan dengan sesutau ketidaksesuaian dalam ketidak samaan sosial sehingga terbentuklah hubungan eksploitasi yang dilakukan oleh pemilik modal terhadap kelas pekerja (buruh)
Hubungan produksi tidak hanya berarti teknologi tetapi juga hubungan sosial yang dimasuki manusia apabia ia turut serta dalam kehidupan ekonomi, pabrik-pabrik modern dengan menggunakan mesin adalah suatu hubungn produksisosial, orang memasuki hubungan sosial.
Dengan adanya pembagian kelas maka munculah hubungan produksi yang timpang , dimana kelas borjuis menikmati surplus produksi lebih besar dibanding kelas proletar. Kelas borjuis dapat hidup lebih lama tanpa kelas proletar sebaliknya kelas proletar tidak dapa hidup tanpa kelas borjuis
Tiap kelas dalam masyarakat memiliki ciri khas tertentu yang dapat menimbulkan konflik antar kelas karena masyarakat secara sistematis menghasilkan perbedaan pendapat antara orang-orang atau golongan yang berbeda tempat / posisi dalam suatu struktur sosial dan dalam hubungannya dengan sarana-sarana produksi. Posisi dalam masyarakat seperti ini akan selalu mendorong mereka untuk melakukan tindakan yang bertujuan utnuk memperbaiki nasib mereka.
Pandangan Marx Tentang  Agama

Pandangan agama menurut karl Marx adalah, agama juga sebagai ideologi, karena Karl Marx agama merujuk sebagai candu masyarakat,

“kesukaran agama-agama pada saat yang bersamaan merupakan sebuah kesukaran  yang sebenarnya.Agama juga sebagai nafas lega bagi mahluk yang tertindas didunia,ketika didunia hatinya sering merasa bergejolak karena keadilan yang tidak ada,membuat agama sebagai candu didalam masyarakat” (Marx, 1843/1970)

Seperti halnya ideologi, agama juga sebagai perefleksian suatu kebenaran,namun semua berbanding terbalik,karena orang-orang tidak bisa menerima akan hal ketertindasan kapitalis,oleh karena itu mereka diberikan suatu bentuk agama.Sebenarnya Karl Marx tidak menentang akan agama,namun marx menolak suatu sistem atau tata cara yang mengandung ilusi-ilusi agama (George Ritzer, 74)

Sebuah bentuk keagamaan seperti ini sangatlah mudah dikacaukan dan mungkin juga kita bisa sebagai peletak dasar sebuah perubahan revolusioner. Sering kali kita melihat bahwa agama selalu berada diposisi yang paling depan untuk melawan para kapitalis. Tetapi Marx tetap menganggap bahwa agama sebagai ideologi kedua dengan menggambarkan kapitalisme sebuah ujian dan mendorong akan terjadinya perubahan revolusioner keakhirat.Sebenarnya isi hati dari para kaum yang tertindas akan mendorong terjadinya penindasaan yang selanjutnya. Karena tidak mungkin kaum kapitalis akan membentuk sebuah keadilan bagi kaum yang tertindas.
Marx melihat agama sebagai candu karena dengan agama setiap manusia menjadi ketergantungan untuk mengingat dan menyembah tuhannya yang disebabkan karena setiap manusia ada permasalahan, kekcauan,ketidakberdayaan dan keadaan yang tertindas maka manusia tersebut akan lari kepada tuhannya.
Marx menganggap agama hanya sebagai pelarian belaka bagi umatnya khususnya bagi kaum buruh (kelas proletar) dari penderitaan,tekanan keadaan ekonomi yang menguras dan mengeksploitasi mereka sehingga melalui agamalah manusia akan menenangkan dan mencari kedamaian untuk mengatasi permasalahan hidupnya. Sehinga setiap manusia mendapatkan permasalahan dan hambatan dalam hidup maka sasaran utamanya adalah kembali kepada tuhan dan agama dengan kepercayaannya masing.
Yang dinginkan Marx adalah manusia tidak memikirkan agama sebagai suatu mimpi tetapi lebih mementingkan keadaan materil sehinga manusia (khususnya kelas buruh) dapat keluar dari kehdupannya yang tidak layak, tidak manusiawi, teralienasi dan tidak ada lagi stratifikasi sosial didalam masyarakat yang disebut dengan Negara tanpa kelas dengan system sosialis dari yang dicita-citakannya selama ini.
  
DAFTAR PUSTAKA

Johnson, D.P. 1986. Teori Sosiologi klasik dan Modern Jilid 1. Jakarta: Gramedia

Kinloch, G.C. 2005. Perkembangan dan Paradigma Teori Sosiologi. Bandung: Pustaka Setia

Ritzer, George. 2008. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar